Rabu, 18 Januari 2012

SEJARAH BERAU

Sejarah Berau

Kabupaten Berau adalah salah satu Daerah Tingkat II di provinsi Kalimantan Timur. Ibu kota kabupaten ini terletak di Tanjung Redeb, Berau. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 32.700 km² dan berpenduduk sebesar kurang lebih 75.000 jiwa.
Kabupaten Berau berasal dari Kesultanan Berau yang didirikan sekitar abadd ke-14. Menurut sejarah Berau, Raja pertama yang memerintah bernama Baddit Dipattung dengan gelar Aji Raden Surya Nata Kesuma dan Isterinya bernama Baddit Kurindan dengan gelar Aji Permaisuri. Pusat pemerintahan kerajaan pada awalnya berkedudukan di Sungai Lati (sekarang menjadi lokasi pertambangan Batu Bara PT. Berau Coal).
berau
Aji Raden Suryanata Kesuma menjalankan masa pemerintahannya tahun 1400 – 1432 dengan adil dan bijaksana, sehingga kesejahteraan rakyatnya meningkat. Pada masa itu dia berhasil menyatukan wilayah pemukiman masyarakat Berau yang disebut Banua, yaitu Banua Merancang, Banua Pantai, Banua Kuran, Banua Rantau Buyut dan Banua Rantau Sewakung.
Di samping kewibawaannya, kedudukan Aji Raden Suryanata Kesuma juga sangat berpengaruh, menjadikan dia disegani lawan maupun kawan. Untuk mengenang jasa Raja Berau yang pertama ini, Pemerintah telah mengabdikannya sebagai nama Korem 091 Aji Raden Surya Nata Kesuma yang Rayon Militer Kodam VI/TPR.
Setelah beliau wafat, Pemerintahan Kesultanan Berau dilanjutkan oleh putranya dan selanjutnya secara turun temurun keturunannya memerintah sampai pada sekitar abad ke-17. Kemudian awal sekitar abad XVIII datanglah penjajah Belanda memasuki kerajaan Berau dengan berkedok sebagai pedagang (VOC). Namun kegiatan itu dilakukan dengan politik De Vide Et Impera (politik adu domba). Kelicikan Belanda berhasil memecah belah Kerajaan Berau, sehingga kerajaan terpecah menjadi 2 Kesultanan yaitu Kesultanan Sambaliung dan Kesultanan Gunung Tabur.
Pada saat bersamaan masuk pula ajaran agama Islam ke Berau yang dibawa oleh Imam Sambuayan dengan pusat penyebarannya di sekitar Sukan. Sultan pertama di Kesultanan Sambaliung adalah Raja Alam yang bergelar Alimuddin (1800 – 1852). Raja Alam terkenal pimpinan yang gigih menentang penjajah belanda. Raja Alam pernah ditawan dan diasingkan ke Makassar (dahulu Ujung Pandang). Untuk mengenang jiwa Patriot Raja Alam namanya diabadikan menjadi Batalyon 613 Raja Alam yang berkedudukan di Kota Tarakan.
Sedangkan Kesultanan Gunung Tabur sebagai Sultan pertamanya adalah Sultan Muhammad Zainal Abidin (1800 – 1833), keturunannya meneruskan pemerintahan hingga kepada Sultan Achmad Maulana Chalifatullah Djalaluddin (wafat 15 April 1951) dan Sultan terkhir adalah Aji Raden Muhammad Ayub (1951 – 1960). Kemudian wilayah kesultanan tersebut menjadi bagian dari Kabupaten Berau.
Sultan Muhammad Amminuddin menjadi Kepala Daerah Istimewa Berau. Beliau memerintah sampai dengan adanya peraturan peralihan dari Daerah Istimewa menjadi Kabupaten Dati II Berau, yaitu Undang-undang Darurat tahun 1953 Tanggal terbitnya Undang-undang tersebut dijadikan sebagai Hari jadi Kabupaten Berau. Dengan diterbitkannya Undang-undang No.27 tahun 1959, Daerah Istimewa Berau berubah menjadi kabupaten Dati II Berau dan Tanjung Redeb sebagai Ibukotanya, dengan Sultan Aji Raden Muhammad Ayub (1960 – 1964) menjadi Bupati Kepala Daerah Tk. II Berau yang pertama.
Penetapan Kota Tanjung Redeb sebagai pusat pemerintahan Dati II Kabupaten Berau adalah untuk mengenang pemerintahan Kerajaan (Kesultanan) di Berau. Di mana pada tahun 1810 Sultan Alimuddin (Raja Alam) memindahkan pusat pemerintahannya ke Kampung Gayam yang sekarang dikenal dengan nama Kampung Bugis. Perpindahan ke Kampung Bugis pada tanggal 25 September tahun 1810 itu menjadi cikal bakal berdirinya kota Tanjung Redeb, yaitu kemudian dibadikan sebagai Hari jadi Kota Tanjung Redeb sebagaimana diterapkan dalam Perda No. 3 tanggal 2 April 1992.

KALTIM GO GREEN


Kaltim Green one man five tree dan Peran Serta Masyarakat Kaltim

baru-baru ini gubernur H Awang Faroek tidak pernah berhenti mengingatkan agar masyarakat mendukung program Kaltim Green atau Kaltim Hijau yang telah menjadi komitmen bersama masyarakat Kaltim dan telah menjadi kesepakatan bersama pada Kaltim Summit 7 Januari 2010. Kaltim Hijau harus mendapat dukungan karena merupakan awal dari proses pelaksanaan pembangunan daerah yang berwawasan lingkungan (green development).
Ia juga meminta semua pihak bertanggungjawab melaksanakan Kaltim Green karena sudah menjadi komitmen bersama. Komitmen itu harus diwujudkan dengan salah satu cara menaman pohon setiap orang lima pohon, atau ‘one man five tree’. Pohon yang ditanam pun bukan harus pohon tertentu, namun berbagai jenis pohon yang disukai masing-masing orang agar manfaatnya kelak bisa dirasakan oleh keturunan si penenam itu sendiri, yakni anak dan cucu mereka.
kaltim green

Menanam pohon tidak hanya berlangsung di daratan, namun daerah pesisir yang ditumbuhi hutan bakau yang menjadi penghasil ikan dan udang mendapat perhatian pula. Terkait dengan itu, maka gubernur meminta semua semua pihak, termasuk kalangan pengusaha turut melakukan penanaman baik di wilayah darat maupun pesisir pantai.
Sebagai daerah yang menjadi paru-paru dunia, maka melestarikan alam dan membuat daerah semakin hijau merupakan tanggung jawab semua pihak. Termasuk juga kebijakan Pemprov dalam mendukung program nasional yang berkomitmen menurunkan emisi 26 persen dalam upaya antisipasi pemanasan global.
Program Kaltim Hijau yang diharapkan adalah, kondisi Kaltim memiliki perangkat kebijakan yang jelas tentang tata kelola pemerintahan, serta program pembangunan yang memberikan perlindungan sosial dan ekologis terhadap masyarakat, serta memberikan jaminan jangka panjang terhadap keselamatan dan kesejahteraan masyarakat berkelanjutan.
Guna semakin mengenalkan Program Kaltim Green, gubernur juga melakukan pendekatan kepada semua pihak agar merasa memiliki dan turut berperan dalam upaya menghijaukan serta meletarikan lingkungan agar tetap bersih dan hijau. Salah satu yakni dengan merangkul kelompok sepeda ontel dalam launching Hari Bebas Kendaraan Bermotor pada 5 Juni 2010.
Acara Launching Hari Bebas Kendaraan Bermotor yang merupakan bagian program dari Pemerintah yaitu “Kaltim Green”. Peserta yang ikut bersepeda bareng dalam perayaan tersebut mendaftar secara gratis dan memperoleh Kaos seragam Kaltim Green juga kupon hadiah doorprize. Peserta yang terlibat dalam kegiatan ini jumlahnya mencapai ribuan pesepeda yang terdiri dari berbagai Club komunitas sepeda yang ada di Samarinda diantaranya seperti komunitas sepeda Bike to Work, Pedalis (Sepeda Lipat Samarinda), B.O.M (Bubuhan Ontel Mahakam), sepeda Low Rider (Samarinda Low Rider Community), OPSIR (Onthel Pesisir Anggana), KOMA (Komunitas Onthel Makroman), Customs Cycling Club, Komunitas sepeda MTB, BMX Bandit, Sepeda Balap, dari instansi perkantoran, masyarakat biasa dan lainnya masih banyak lagi juga datang dari luar kota Samarinda diantaranya seperti dari Balikpapan, Sanggata, Anggana, Tenggarong dan lain-lain.
kaltim bersepeda

Begitu besar Animo masyarakat untuk ikut serta mensukseskan Program Pemerintah Provinsi Kaltimone man five tree’, kedepannya diharapkan Institusi Pemerintah, Lembaga Masyarakat dan seluruh lapisan masyarakat terus mendukung gerakan Kaltim Green ini, diantaranya adalah penerapan area bebas rokok dan sosialisai penggunaan sepeda.

BUDAYA SAMARINDA

  SUKU DAYAK

                                        Pangkalima Burung

Dalam masyarakat Dayak, dipercaya ada ada suatu makhluk yang disebut-sebut sangat agung, sakti, ksatria, dan berwibawa. Sosok tersebut konon menghuni gunung di pedalaman Kalimantan, bersinggungan dengan alam gaib. Pemimpin spiritual, panglima perang, guru, dan tetua yang diagungkan. Ialah pangkalima perang Dayak, Pangkalima Burung, yang disebut Pangkalima oleh orang Dayak pedalaman. Ada banyak sekali versi cerita mengenai sosok ini, terutama setelah namanya mencuat saat kerusuhan Sambas dan Sampit.
Ada yang menyebutkan ia telah hidup selama beratus-ratus tahun dan tinggal di perbatasan antara Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Ada pula kabar tentang Pangkalima Burung yang berwujud gaib dan bisa berbentuk laki-laki atau perempuan tergantung situasi. Juga mengenai sosok Pangkalima Burung yang merupakan tokoh masyarakat Dayak yang telah tiada, namun dapat rohnya dapat diajak berkomunikasi lewat suatu ritual. Hingga cerita yang menyebutkan ia adalah penjelmaan dari Burung Enggang, burung yang dianggap keramat dan suci di Kalimantan.
panglima burung
Selain banyaknya versi cerita, di penjuru Kalimantan juga ada banyak orang yang mengaku sebagai Pangkalima Burung, entah di Tarakan, Sampit, atau pun Pontianak. Namun setiap pengakuan itu hanya diyakini dengan tiga cara yang berbeda; ada yang percaya, ada yang tidak percaya, dan ada yang ragu-ragu. Belum ada bukti otentik yang memastikan salah satunya adalah benar-benar Pangkalima Burung yang sejati.
Banyak sekali isu dan cerita yang beredar, namun ada satu versi yang menurut saya sangat pas menggambarkan apa dan siapa itu Pengkalima Burung. Ia adalah sosok yang menggambarkan orang Dayak secara umum. Pangkalima Burung adalah perlambang orang Dayak. Baik itu sifatnya, tindak-tanduknya, dan segala sesuatu tentang dirinya.
Lalu bagaimanakah seorang Pangkalima Burung itu, bagaimana ia bisa melambangkan orang Dayak? Selain sakti dan kebal, Pangkalima Burung juga adalah sosok yang kalem, tenang, penyabar, dan tidak suka membuat keonaran. Ini sesuai dengan tipikal orang Dayak yang juga ramah dan penyabar, bahkan kadang pemalu. Cukup sulit untuk membujuk orang Dayak pedalaman agar mau difoto, kadang harus menyuguhkan imbalan berupa rokok kretek.
Dan kenyataan di lapangan membuyarkan semua stereotipe terhadap orang Dayak sebagai orang yang kejam, ganas, dan beringas. Dalam kehidupan bermasyarakat, orang Dayak bisa dibilang cukup pemalu, tetap menerima para pendatang dengan baik-baik, dan senantiasa menjaga keutuhan warisan nenek moyang baik religi maupun ritual. Seperti Pengkalima Burung yang bersabar dan tetap tenang mendiami pedalaman, masyarakat Dayak pun banyak yang mengalah ketika penebang kayu dan penambang emas memasuki daerah mereka. Meskipun tetap kukuh memegang ajaran leluhur, tak pernah ada konflik ketika ada anggota masyarakatnya yang beralih ke agama-agama yang dibawa oleh para pendatang. Riuh rendah tak berubah menjadi ketegangan di ruang yang lingkup–yang oleh orang Dayak Ngaju disebut Danum Kaharingan Belum.
Kesederhanaan pun identik dengan sosok Pangkalima Burung. Walaupun sosok yang diagungkan, ia tidak bertempat tinggal di istana atau bangunan yang mewah. Ia bersembunyi dan bertapa di gunung dan menyatu dengan alam. Masyarakat Dayak pedalaman pun tidak pernah peduli dengan nilai nominal uang. Para pendatang bisa dengan mudah berbarter barang seperti kopi, garam, atau rokok dengan mereka.
Pangkalima Burung diceritakan jarang menampakkan dirinya, karena sifatnya yang tidak suka pamer kekuatan. Begitupun orang Dayak, yang tidak sembarangan masuk ke kota sambil membawa mandau, sumpit, atau panah. Senjata-senjata tersebut pada umumnya digunakan untuk berburu di hutan, dan mandau tidak dilepaskan dari kumpang (sarung) jika tak ada perihal yang penting atau mendesak.
Lantas di manakah budaya kekerasan dan keberingasan orang Dayak yang santer dibicarakan dan ditakuti itu? Ada satu perkara Pangkalima Burung turun gunung, yaitu ketika setelah terus-menerus bersabar dan kesabarannya itu habis. Pangkalima burung memang sosok yang sangat penyabar, namun jika batas kesabaran sudah melewati batas, perkara akan menjadi lain. Ia akan berubah menjadi seorang pemurka. Ini benar-benar menjadi penggambaran sempurna mengenai orang Dayak yang ramah, pemalu, dan penyabar, namun akan berubah menjadi sangat ganas dan kejam jika sudah kesabarannya sudah habis.
Pangkalima Burung yang murka akan segera turun gunung dan mengumpulkan pasukannya. Ritual–yang di Kalimankan Barat dinamakan Mangkuk Merah–dilakukan untuk mengumpulkan prajurit Dayak dari saentero Kalimantan. Tarian-tarian perang bersahut-sahutan, mandau melekat erat di pinggang. Mereka yang tadinya orang-orang yang sangat baik akan terlihat menyeramkan. Senyum di wajahnya menghilang, digantikan tatapan mata ganas yang seperti terhipnotis. Mereka siap berperang, mengayau–memenggal dan membawa kepala musuh. Inilah yang terjadi di kota Sampit beberapa tahun silam, ketika pemenggalan kepala terjadi di mana-mana hampir di tiap sudut kota.
Meskipun kejam dan beringas dalam keadaan marah, Pengkalima Burung sebagaimana halnya orang Dayak tetap berpegang teguh pada norma dan aturan yang mereka yakini. Antara lain tidak mengotori kesucian tempat ibadah–agama manapun–dengan merusaknya atau membunuh di dalamnya. Karena kekerasan dalam masyarakat Dayak ditempatkan sebagai opsi terakhir, saat kesabaran sudah habis dan jalan damai tak bisa lagi ditempuh, itu dalam sudut pandang mereka. Pembunuhan, dan kegiatan mengayau, dalam hati kecil mereka itu tak boleh dilakukan, tetapi karena didesak ke pilihan terakhir dan untuk mengubah apa yang menurut mereka salah, itu memang harus dilakukan. Inilah budaya kekerasan yang sebenarnya patut ditakuti itu.
Kemisteriusan memang sangat identik dengan orang Dayak. Stereotipe ganas dan kejam pun masih melekat. Memang tidak semuanya baik, karena ada banyak juga kekurangannya dan kesalahannya. Terlebih lagi kekerasan, yang apapun bentuk dan alasannya–entah itu balas dendam, ekonomi, kesenjangan sosial, dan lain-lain–tetap saja tidak dapat dibenarkan. Mata dibalas mata hanya akan berujung pada kebutaan bagi semuanya. Terlepas dari segala macam legenda dan mitos, atau nyata tidaknya tokoh tersebut, Pangkalima Burung bagi saya merupakan sosok perlambang sejati orang Dayak.

WISATA DI BERAU - KALIMANTAN TIMUR

Pulau Derawan

Pulau  Derawan di Kabupaten Berau terus dipromosikan sebagai obyek penyelaman baru  di Indonesia mengalahkan Taman Laut Bunaken di Sulawesi  Utara. Demikian dikatakan Gubernur Kaltim H Awang Faroek Ishak saat Dialog memperingati Hari Nusantara di TVRI Stasiun Jakarta .
Awang Faroek yang menjadi pembicara bersama Menteri Kelautan dan Perikanan, Fadel Mohammad,  menjelaskan bahwa Pulau Derawan menempati urutan ke empat setelah Taman laut Raja Ampat di Papua, Taman laut Wakatobi di Sulawesi Tenggara, Taman Laut Bali Barat di Provinsi Bali. Bahkan,  Pulau Derawan  mengalahkan Taman Laut  Bunaken di Sulawesi Utara yang menempati urutanke lima nasional.
“Keindahan laut di Pulau Derawan mulai terkenal di Indonesia, bahkan  di mancanegara. Banyak tamu asing yang telah berkunjung dan memuji keindahan bawah laut Pulau Derawan seperti  mantan Duta Besar Amerika untuk Indonesia dan kunjungan tamu kerajaan Belgia, Pangeran Hendry,” ujarnya.
pulau derawan
Untuk mencapai Kabupaten Berau, kini bukanlah hal yang sulit karena  telah  dapat menggunakan pesawat terbang  dengan tujuan Bandara Kalimarau, kemudian  perjalanan diteruskan menuju dermaga laut dan menggunakan kapal jenis speed boat selama 2-3 jam untuk menuju Pulau Derawan.
“Sekarang di Berau sudah dapat didarati pesawat Boeng berbadan lebar yang berangkat langsung dari segala tujuan. Selain menyelam, jika ke Pulau Derawan,  Kita dapat berenang dengan penyu-penyu yang muncul ke permukaan. Selain Pulau Derawan, juga terdapat gugusan kepulauan lainnya di Kabupaten Berau diantaranya Pulau Sangalaki, Kakaban dan Maratua yang tidak kalah menarik dari Pulau Derawan,”ujarnya.
Pulau Sangalaki misalnya, mempunyai populasi ikan pari biru (Manta Rays) yang unik, yang lebarnya dapat mencapai 3,5 meter. Kalau beruntung, dapat dijumpai ikan pari hitam dengan lebar 6 meter. Sedangkan di Pulau Kakaban mempunyai keunikan  berupa Danau Prasejarah, yang ada di tengah laut, satu-satunya ada di Asia dan dihuni oleh ubur-ubur.
Untuk akomodasi, pengunjung tidak perlu khawatir karena di Pulau Derawan terdapat cottage dengan pengelolaan dan pelayanan sekelas hotel. Bagi yang tidak menginginkan bermalam di cottage, dapat memanfaatkan rumah-rumah penduduk yang difungsikan sebagai “home stay” dengan biaya sangat murah.

 

Danau Labuan Cermin,

RASA lelah seketika hilang, meski sebelumnya harus menempuh perjalanan sejauh 250 kilometer dari Tanjung Redeb, ibu kota Kabupaten Berau. Lama perjalanan 8 jam dari Tanjung Redeb itu seperti tak terasa dan langsung terobati begitu melihat kejernihan air di danau yang dikelilingi keasrian hutan mangrove yang masih terjaga.
Dasar air terlihat begitu jelas, termasuk biota air di dalamnya seperti karang dan ikan beragam jenis. Tak ketinggalan, penyu hijau juga sesekali singgah di perairan ini.
Dari dasar danau, air terlihat dangkal. Padahal sebenarnya kedalamannya bisa lebih dari 3 meter.  Keunikan lain, di bagian permukaan air terasa agak asin. Sementara di dasarnya terasa tawar. Ini karena pengaruh sumber air danau yang berasal dari bebatuan mengandung kapur.
Tak jauh dari kawasan ini terdapat pelabuhan tradisional. Ini mendukung aktivitas warga yang banyak tinggal di kawasan ini dengan mata pencaharian sebagai nelayan. Baik menangkap ikan di laut lepas, maupun dengan cara membuat bagan.
foto danau labuan cermin
Selasa (1/2) tadi, Bupati Berau Makmur HAPK dan Wakil Bupati Ahmad Rifai, masing-masing bersama istrinya dan rombongan lain, menikmati keindahan objek wisata alam ini. Menggunakan perahu kayu berpenumpang sekitar 25 orang, Kaltim Post ikut menyusuri danau ini.
Bertolak dari dermaga tradisional yang ada di muara danau, perahu menyusuri ke arah sumber air. Melintasi bawah Jembatan Labuan Cermin, perahu terus bergerak ke ujung danau, tempat air berasal. Perlu waktu sekitar 20 menit untuk sampai ke lokasi tersebut. Begitu di ujung danau, terlihat kawasan masih asri, dikelilingi rerimbunan pohon. Di salah satu sudut, terlihat batang kayu yang disusun seadanya untuk istirahat sejenak.
Bupati naik ke dermaga sederhana itu, mengawasi sekeliling. Menurut penjelasan warga setempat, di balik daerah perbukitan itu, terdapat danau lagi yang jaraknya sekitar 100 meter. Kejernihannya, jelas tak usah diragukan.
Abdul Karim, pengurus Lembaga Kesejahteraan Masyarakat Labuan Cermin (Likma Lamin) berharap, di kawasan itu dilengkapi dengan penunjang objek wisata seperti papan nama, serta berharap dukungan pemerintah agar keasrian kawasan itu terus terjaga.
“Ikan di danau ini semakin banyak. Ikannya mulai berkembang-biak karena tak diganggu orang,” katanya.
Sebelumnya, selama 6 tahun Likma Lamin secara swadaya ikut mempertahankan kawasan ini agar tak diganggu orang luar. Sayangnya, objek wisata ini belum dikelola secara maksimal. Karena itu, Bupati Berau Makmur HAPK bertekad mengembangkan lokasi ini, diawali dengan menetapkan kawasan ini sebagai kawasan konservasi atau kawasan lindung. Setelah itu, akan dilengkapi sarana penunjang yang memudahkan pengunjung menikmati danau ini.
danau labuan cermin berau
Air yang konon juga menjadi tempat mandi para Raja Berau di masa lalu, juga dimanfaatkan warga sebagai sumber air bersih. Tak perlu bahan kimia, cukup siapkan pipa saja dan air bisa disedot untuk dialirkan ke rumah-rumah.
“Yang penting lingkungan mangrove-nya tetap terjaga, air ini akan selalu jernih,” kata Makmur.
Pekan depan, mantan Putri Indonesia Nadine Chandrawinata juga dijadwalkan berkunjung ke lokasi tersebut. Tujuannya untuk ikut mempromosikan objek wisata ini secara nasional. Nadine kemungkinan akan melakukan penyelaman di kawasan danau tersebut.
Untuk menuju lokasi ini, dari Tanjung Redeb harus menggunakan angkutan pedesaan atau mobil carter ke arah Selatan. Daerah yang dilalui antara lain Tabalar, Biatan, Talisayan dan Batu Putih. Setelah itu barulah tiba di Biduk-biduk. Tak usah memikirkan perjalanan yang begitu panjang. Karena setelah melihat langsung lokasi ini, keindahannya akan “membayar” rasa capek.
Tak jauh dari lokasi ini, penikmat wisata juga bisa mengunjungi pantai Teluk Sulaiman, yang tak kalah indah dengan Pulau Derawan. Kawasan itu juga terus ditingkatkan fasilitasnya sebagai daerah kunjungan wisata alternatif.

Pulau Derawan Nirwana Bahari

Sebuah nirwana tropis berada di salah satu pulau wilayah Provinsi Kalimantan Timur, tepatnya Kabupaten Berau dan di Selat Sulawesi, tak jauh dari perbatasan Malaysia. Pulau Derawan menjadi sebuah destinasi wisata bahari pilihan menawan buat Anda yang menyukai pantai dengan hamparan pasir putih lembut berkilat serta air jernih. Apalagi ditambah bonus menjumpai penyu-penyu jinak yang berenang-renang riang saat kita melakukan penyelaman.
Terkadang saat duduk di ujung jembatan kayu yang mengarah ke laut, kita dapat menyaksikan penyu-penyu hijau itu hilir mudik di permukaan air yang bening. Sesekali bahkan penyu-penyu tersebut nampak berkeliaran di sekitar cottage yang berada di pesisir pulau. Saat malam tiba, beberapa penyu naik ke darat dan bertelur di sana.
Paduan warna laut dan lumut yang memukau menghasilkan gradasi warna biru dan hijau, serta hutan kecil di tengahnya, membuat pulau ini menyajikan pemandangan alam begitu indah yang sayang untuk dilewatkan begitu saja. Yang tersisa, kenangan mendalam.?
Dr. Carden Wallace dari Museum Tropis Queensland, Australia pernah meneliti kekayaan laut Pulau Derawan dan menjumpai lebih dari 50 jenis Arcropora (hewan laut) dalam satu terumbu karang. Tak salah kiranya jika Pulau Derawan terkenal sebagai urutan ketiga teratas di dunia sebagai tempat tujuan menyelam bertaraf internasional
Pulau ini memang relatif kurang begitu dikenal khususnya di dalam negeri karena untuk mencapainya butuh perjuangan tersendiri yang cukup berliku. Anda mesti menuju ke Balikpapan dulu dari Jakarta, Surabaya, Yogyakarta atau Denpasar, untuk menuju pulau ini. Kurang lebih dua jam waktu tempuh penerbangan dari Jakarta ke Balikpapan.
Dari Balikpapan, Anda masih harus terbang menuju Tanjung Redeb selama satu jam dengan menaiki pesawat kecil yang dilayani oleh KAL Star, Deraya atau DAS. Selain itu, Tanjung Redeb juga bisa dicapai melalui laut, dengan menaiki kapal dari Samarinda atau Tarakan ke Tanjung Redeb dilanjutkan dengan menyewa motorboat menuju pulau Derawan dengan lama perjalanan kurang lebih 2 jam.
Sejumlah wisatawan Jepang dari Tokyo melalui travel yang ada di sana “tembak langsung” berangkat ke Singapura atau ke Sabah kemudian melanjutkan perjalanan ke Balikpapan, lalu ke Tanjung Redeb menggunakan pesawat kecil.
Mereka memanfaatkan waktu mereka selama di Derawan dengan menyelam, menyusuri keindahan bawah laut di pulau tersebut yang memang merupakan lokasi terbaik untuk olahraga selam. Apalagi dengan kondisi pulau yang terpencil dan “masih perawan” kian menambah pesona siapapun juga untuk menikmatinya selama mungkin.
Tak usah jauh-jauh, hanya dalam jarak 50 meter dari bibir pantai, kita sudah dapat menyaksikan terumbu karang yang indah dan ikan-ikan beraneka warna hilir mudik. Airnya sangat bening. Anda pun bisa menyewa snorkel seharga Rp 30 ribu per hari. Bila ingin menyelam lebih dalam, kita dapat menemukan ikan-ikan yang lebih “eksotis” seperti kerapu, ikan merah, ikan kurisi, ikan barracuda, teripang, dan kerang. Pada batu karang di kedalaman sepuluh meter, terdapat karang yang dikenal sebagai “Blue Trigger Wall” karena pada karang dengan panjang 18 meter tersebut banyak terdapat ikan trigger (red-toothed trigger fishes).
Pulau Derawan menyediakan fasilitas-fasilitas tempat penginapan (cottage), penyewaan peralatan menyelam dan juga restoran. Ada pula penginapan-penginapan bertarif murah yang dikelola oleh warga sekitar. Kisaran harganya mulai dari Rp 45 ribu sampai Rp 100 ribu/malam.
Masih belum puas?
Anda dapat meninjau juga pulau lainnya yang berada di sekitar Derawan. Misalnya: Pulau Sangalaki, Pulau Maratua, dan Pulau Kakaban yang mempunyai keunikan tersendiri. Ikan Pari Biru (Manta Rays) yang memiliki lebar mencapai 3,5 meter berpopulasi di Pulau Sangalaki. Malah bisa pula ditemui—jika cukup beruntung ikan pari hitam dengan lebar “bentang sayap” 6 meter . Sedangkan Pulau Kakaban mempunyai keunikan yaitu berupa danau prasejarah yang ada di tengah laut, satu-satunya di Asia.

Wisata Alam Pulau Sangalaki Kalimantan Timur

Tak banyak yang tahu bahwa di bagian Utara Kalimantan Timur, tepatnya di Kabupaten Berau terdapat kepulauan yang sangat indah yaitu KEPULAUAN DERAWAN. Kepulauan yang terdiri dari 28 pulau kecil ini menawarkan keindahan pantai dan alam bawah laut yang mempesona. Beberapa pulau yang diprioritaskan untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata bahari di kepulauan ini adalah Pulau Derawan, Pulau Maratua, Pulau Sangalaki dan Pulau Kakaban. Setiap pulau memiliki keindahan alam dan keunikannya masing-masing dan Pulau Sangalaki menawarkan atraksi wisata yang mungkin tak bisa anda temukan di pulau lain.
APA YANG BISA ANDA NIKMATI DI SANGALAKI ?
Sangalaki adalah pulau kecil yang luasnya sekitar 13 Ha. Dengan jalan santai, anda bisa menglilingi pulau yang berstatus Taman Wisata Alam (TWA) ini hanya dalam waktu 30 menit. Selama perjalanan, anda akan menikmati pantai berpasir putih dan laut yang menawan. Pada pagi dan sore hari, anda juga bisa menikmati fenomena alam yaitu terbit dan terbenamnya matahari yang menakjubkan.
Tak hanya itu, selama anda mengelilingi pulau, anda juga bisa menyaksikan berbagai satwa liar yang yang mungkin belum pernah anda lihat sebelumnya. Seperti ketam kelapa, biawak, elang bondol, burung gosong Philipina, kuntul karang, burung pergam laut dan burung pantai/laut lainnya. Disepanjang pantai, anda juga bisa menemukan berbagai jenis moluska (kerang) dalam berbagai bentuk dan warna.
Selain itu, Pulau Sangalaki juga memiliki alam bawah laut yang sangat indah, terumbu karang yang ada di pulau ini merupakan salah satu yang terbaik di dunia. Tutupan karang rata-rata Pulau Sangalaki adalah 26.75% untuk karang keras dan 42.50% untuk karang hidup. Berdasarkan survey yang dilakukan Naturalis Museum Laeden tahun 2003, di Perairan Pulau Sangalaki dan Pulau Derawan ditemukan 40 spesies karang jamur (mushroom coral). Kawasan perairan ini merupakan lokasi dengan keanekaragaman karang jamur tertinggi di KKL Berau (Wiryawan dkk, 2005). Di perairan Pulau Sangalaki juga terdapat 1.051 spesies ikan karang dan lima spesies lamun.
APA YANG UNIK DI SANGALAKI ?
Semua kawasan wisata di Kepulauan Derawan memiliki alam bawah laut yang indah, pantai berpasir putih dan pemandangan alam yang memukau. Tapi ada atraksi wisata yang istimewa di Pulau Sangalaki karena pulau ini merupakan tempat pendaratan penyu dan kawasan perairannya merupakan lokasi agregasi pari manta.
TWAL (Taman Wisata Alam Laut) Pulau Sangalaki merupakan pulau peneluran penyu hijau yang terpenting di Asia Tenggara, bahkan mungkin di dunia. Setiap malam, sepanjang tahun 10 – 30 ekor penyu bersarang di Pulau Sangalaki. Untuk meyaksikan atraksi ini, anda harus bermalam di Pulau Sangalaki karena aktivitas penyu bertelur tersebut hanya bisa anda jumpai di malam hari. Selain itu, di pulau ini juga dilakukan kegiatan konservasi penyu oleh LSM Turtle Fondation. Setiap pagi petugas akan memindahkan telur yang letaknya terlalu dekat dengan laut ke tempat yang lebih aman yaitu ke tempat penetasan telur penyu semi alami. Aktivitas ini juga cukup menarik untuk diikuti.
Keunikan lain dari Pulau Sangalaki adalah adanya agregasi pari manta di perairan pulau ini. Pari manta merupakan jenis ikan pari yang makanan utamanya berupa plankton. Perairan Sangalaki memiliki kelimpahan zooplankton paling tinggi dibandingkan kawasan perairan lain di KKL Berau. Tingginya kelimpahan zooplankton tersebut menjadikan kawasan ini sebagai tempat agregasi pari manta yang paling tinggi. Pari manta biasanya naik ke permukaan dan memakan plankton pada saat air surut. Dan untuk menyaksikan ikan unik ini, anda harus menyelam.
APA YANG BISA DILAKUKAN DI SANGALAKI ?
a. Menyelam dan snorkling
Untuk melihat alam bawah laut dan berbagai biota yang ada di dalamnya, anda bisa menyelam atau snorkeling. Aktivitas ini jangan anda lewatkan, karena kata orang belum ke Sangalaki kalau belum menyelami perairannya.
b. Pengamatan Satwa Liar
Satwa liar yang paling menarik untuk diamati adalah penyu. Selain melakukan pengamatan penyu di pantai, pengunjung juga bisa mengamati telur penyu yang menetas di penetasan penyu semi alami yang ada di Pulau tersebut. Selain itu, jika anda tertarik, anda juga bisa melakukan pengamatan burung (birdwatching) di pulau ini.
c. Tracking
Aktivitas ini biasanya dilakukan hampir oleh semua orang yang berkunjung ke Pulau ini. Objek yang bisa diamati adalah pemandangan, hutan pantai, matahari terbit dan matahari terbenam. Pulau Sangalaki dapat dikelilingi hanya dalam waktu 30 menit, sehingga tracking bisa dilakukan pengunjung dari semua kelas umur.
d. Berenang
Berenang merupakan salah satu aktivitas yang dapat dilakukan pengunjung di perairan yang dangkal di sepanjang pantai. Aktivitas ini dapat dilakukan secara berkelompok di pantai yang relatif aman.
FASILITAS YANG BISA ANDA DAPATKAN?
Sarana yang ada di TWAL Pulau Sangalaki diantaranya sarana akomodasi berupa 12 unit cottage, rumah makan/cafetraia, sarana wisata tirta, dan kios cenderamata. Setiap cottage dilengkapi dengan dua tempat tidur dan kamar mandi. Harga sewa cottage ini per malam adalah $ 50. Pengelola wisata alam di Pulau Sangalaki juga menyewakan sarana wisata tirta berupa kapal motor, perlengkapan selam dan perlengkapan snorkling.
BAGAIMANA MENCAPAI SANGALAKI ?
Perjalanan menuju Pulau Sangalaki dapat ditempuh melalui jalur darat dan udara.Jarak tempuh perjanan darat dari ibu kota provinsi yaitu Samarinda menuju kota Tanjung Redeb adalah sekitar ± 700 Km dengan kondisi aksesibilitas jalan ’sedang’. Jalan darat yang menghubungkan Samarinda dengan Tanjung Redeb ± 90 % telah di aspal, namun jalan yang berlubang, sempitnya ruas jalan serta banyaknya bagian jalan yang rusak karena longsor membuat pengendara harus berhati-hati. Jenis kendaraan yang dapat digunakan adalah mobil sewaan dengan biaya sekitar Rp. 3.000.000 untuk perjalanan pulang pergi. Sedangkan angkutan umum yang tersedia adalah bus berkapasitas 25 orang dengan harga tiket Rp. 125. 000 per orang. Waktu tempuh perjalanan darat jika menggunakan mobil sewaan adalah sekitar ± 15 jam, sedangkan jika menggunakan kendaraan umum bisa sampai ± 20 jam.
Dari ibu kota Kabupaten Berau yaitu Tanjung Redeb, perjalanan darat dilanjutkan ke Tanjung Batu. Jarak yang ditampuh adalah sekitar 100 Km, kendaraan yang digunakan adalah angkutan reguler yang disebut ”taksi”. Angkutan ini berbentuk mobil kijang yang berangkat pukul 8 pagi dari Tanjung Redeb, biaya yang dibutuhkan adalah Rp. 50.000 per orang dengan waktu tempuh ± 2.5 jam. Ruas jalan sebagian besar sudah diaspal dan kondisinya relatif baik.
Dari Tanjung Batu, perjalanan ke Pulau Sangalaki dilanjutkan dengan menyewa speed boat atau ketinting. Harga sewa speedboat berkapasitas maksimal 5 orang ini adalah Rp. 400.000 – Rp. 600.000 untuk perjalanan pulang dan pergi. Jika bermalam biaya speedboat bisa mencapai Rp. 650.000 – 750.000, sedangkan harga sewa ketinting berkisar antara Rp. 150. 000 – Rp. 200.000 pulang pergi. Walaupun biaya perjalanan dengan ketinting lebih murah, namun waktu tempuhnya mencapai empat kali lipat waktu tempuh speedboat. Perjalanan dengan speedboat dari Tanjung Batu ke Pulau Sangalaki ditempuh selama 2 – 3 jam sedangkan bila menggunakan ketinting bisa mencapai ± 8 – 12 jam
Perjalanan dari Tanjung Redeb menuju Pulau Sangalaki juga dapat dilakukan dengan menggunakan speedboat langsung dari Pelabuhan Tanjung Redeb. Biaya speedboat dari Tanjung Redeb ke Pulau Sangalaki mencapai Rp. 5.000.000 pulang pergi dengan waktu tempuh sekitar 3 – 4 jam perjalanan. Sampai saat ini belum ada angkutan air reguler menuju Pulau Sangalaki, angkutan reguler hanya tersedia menuju Pulau Derawan. Dari pulau ini biasanya pengunjung yang ingin ke Pulau Sangalaki menyewa perahu kayu milik nelayan.
Selain jalur darat, perjalanan ke Pulau Sangalaki juga dapat ditempuh dengan jalur udara. Perjalanan dengan menggunakan pesawat terbang dapat dilakukan dari Bandara Temindung Samarinda atau dari Bandara Sepinggan Balikpapan menuju Bandara Kalimarau di Tanjung Redeb. Perjalanan selanjutnya dapat ditempuh dengan cara yang sama dengan jalur darat.
PAKET WISATA YANG DITAWARKAN
Pada umumnya hotel-hotel di Tanjung Redeb menawarkan paket wisata tertentu bagi pengunjung yang berminat melakukan perjalanan wisata ke Kepulauan Derawan. Pulau Derawan dapat dikatakan sebagai pusat wisata bahari di kepulauan ini. Selain karena sudah adanya angkutan reguler ke pulau ini, di pulau ini juga terdapat fasilitas wisata yang lebih lengkap dan ditunjang dengan prasarana lainnya seperti jaringan listrik, telekomunikasi dan sumber air bersih. Oleh karena itu paket wisata yang ada biasanya dipusatkan di pulau ini. Dari pulau ini pengunjung dapat berwisata ke pulau-pulau lainya seperti Pulau Maratua, Pulau Sangalaki, Pulau Semama dan Pulau Kakaban yang letaknya saling berdekatan.
Untuk berwisata ke Pulau Sangalaki, anda memang harus merogoh kocek agak dalam, tapi jangan khawatir karena anda akan mendapatkan pengalaman wisata yang tak terlupakan. Jadi tunggu apa lagi ??? BURUAAAAAAAN DONG !!!!

Biaya Perjalanan Wisata ke Derawan, Kakaban, Sangalaki dan Maratua

Karena banyaknya peminat dan pengunjung website WisataKaltim ini yang meminta kepada penulis untuk memberikan gambaran rincian biaya pergi Wisata ke Pulau Derawan Berau maka penulis mencoba untuk memberikan gambaran biaya wisata ke sana. Penulis bukan Travel Agency juga bukan Makelar Travelling saya hanya membantu membuang mitos bahwa ke Pulau Derawan membutuhkan biaya mahal, sebenarnya tidak asal kita tahu celahnya.
Jika Anda dari Jakarta, tinggal cari tiket murah jkt-bpp-tarakan (estimasi 1,7 juta PP) atau bisa langsung jkt-bpp-Berau tapi tiket ke beraunya hanya bisa dibeli di Bandara Balikpapan, tidak ada pemesanan secara online (estimasi 2,4 juta PP).
Dari Tarakan – Derawan – Tarakan (Anda bisa sewa speed boat karena jaraknya 3 jam jadi memang agak mahal sewa’nya sekitar 3 juta untuk max 6 orang)
Jika turun di Berau anda harus menempuh perjalanan ke Tanjung Batu sekitar 3 jam dengan menyewa mobil inova/ kijang (biaya 800-1 juta PP)
Dari Tanjung Batu ke Derawan menggunakan Speedboat 20 menit (biaya 400 ribu PP)
Di Derawan penginapan banyak pilihan, mulai dari 50 ribu permalam, 250 ribu permalam sampai 400 ribu permalam (cottage), lokasi berada di pinggir laut bisa langsung mancing dari depan kamar atau berenang sama penyu di sana.
Tipsnya berlibur ke Derawan sebaiknya 4-6 orang, semakin banyak semakin minim budged anda, karena patungan dengan temen-temen anda :)
Jika anda ingin pergi ke Pulau Kakaban, Pulau Sangalaki dan Pulau Maratua tinggal ngomong dengan yang punya penginapan, biasanya mereka punya speedboat untuk membawa ke pulau tersebut. Biaya biasanya hitungan paket, sekitar 500 – 1 juta untuk 3 pulau tersebut (Full Day).

MARI BELIBUR KE KALIMANTAN TIMUR!!! :)

Pulau Maratua, Berau

Infrastruktur Masih Kurang, Resort Wisata Dikelola Pengusaha Malaysia
Maratua, Pulau Terluar di Berau (Borneo) yang Jadi Tujuan – Kabupaten Berau (Borneo) terkenal dengan objek wisata baharinya. Salah satunya adalah wisata bahari di Pulau Maratua. Warga negara asing pun sering berkunjung ke pulau yang merupakan salah satu pulau terluar di gugusan kepulauan Berau (Borneo) itu. Seperti apakah Pulau Maratua yang dikenal dengan sebutan Paradise Island itu?
pulau maratua
UNTUK menuju Pulau Maratua atau Kecamatan Maratua memerlukan waktu yang cukup lama. Dari Tanjung Redeb, ibu kota kabupaten saja, waktu normalnya sekitar 3 sampai 4 jam dengan menggunakan speedboat. Jika ingin melalui Tanjung Batu, ibu kota Kecamatan Pulau Derawan, terlebih dulu melalui jalur darat yang dapat ditempuh 2 jam perjalanan dari Tanjung Redeb. Setelah itu menggunakan speedboat sekitar 30 menit lebih.
Koordinat titik terluar Maratua 20 15’ 12? LU, 1180 38’ 41? BT. Pulau ini berbatasan dengan negara tetangga Malaysia (Malingsia) dan Filipina atau berada di Selat Sulawesi. Maratua terdiri dari empat kampung, yaitu Kampung Tanjung Harapan Bohebukut, Teluk Alulu, Bohesilian dan Payung Payung. Suku yang bermukim di Maratua mayoritas suku Bajo yang kebanyakan bermata pencaharian sebagai nelayan.
Sebagai salah satu kecamatan terjauh di Berau (Borneo). Pembangunan infrastuktur di pulau yang berpenduduk sekitar 3.168 jiwa ini tidak begitu maju. Infrastruktur jalan saja baru sepersekian persen saja yang beraspal, lebarnya pun menurut warga setempat, hanya tiga meter, yang artinya hanya bisa dilalui satu kendaraan roda empat. Namun, karena tidak ada kendaraan roda empat di pulau ini, maka lebar jalan yang hanya 3 meter sudah cukup.
Sekadar diketahui, di pulau yang luasnya 2.282,46 hektare itu hanya ada kendaraan roda dua saja sebagai alat transportasi warga. Untuk berpergian dari kampung satu ke kampung lainnya, warga pun harus lebih banyak melalui jalan setapak dengan sepeda motor.”Kami akui pembangunan infrastruktur di sini (Maratua, Red) masih kurang.
Tapi bukannya pemerintah daerah tidak memperhatikan,” tegas Wakil Bupati Berau (Borneo) Ahmad Rifai. Secara bertahap, pemerintah Berau (Borneo) melakukan pembangunan infrastruktur. Mulai jalan hingga kebutuhan dasar masyarakat lainnya, seperti air bersih, pendidikan dan kesehatan. “Kalau listrik memang belum. Karena pemerintah daerah masih mencari alternatif yang cocok untuk di Maratua ini,” ujar Rifai.
Kendati pembangunan infrastruktur belum maju, namun Maratua adalah tujuan wisata bahari yang menjadi andalan Berau (Borneo). Jarak serta besarnya biaya yang dikeluarkan untuk berlibur di pulau yang menjadi “surga” para penyelam ini tidak akan menjadi persoalan. Karena panorama alam yang begitu elok dipandang, tak hanya ketika matahari mulai terbenam namun yang menjadi daya tarik para wisatawan adalah pemandangan alam bawah lautnya.
Wisatawan asing pun seperti enggan beranjak cepat ketika berada di Pulau Maratua, meskipun dolar atau euro yang mereka keluarkan cukup besar. Tapi semua itu terbayarkan dengan kepuasan mendapatkan pemandangan alam yang begitu indah. Hamparan laut lepas dan pasir putih memang menjadi daya tarik. Apalagi di Maratua pun banyak pulau-pulau kecil yang juga tak kalah bagus pemandangannya.
Karena merupakan tempat wisata bahari yang elok, Maratua pun sudah seharusnya mendapat perhatian khusus, baik oleh Pemkab Berau (Borneo), Pemprov Kaltim maupun pemerintah pusat. Apalagi keberadaan pulau ini yang berbatasan dengan negara tetangga Malaysia dan Filipina. Jangan sampai kejadian lepasnya Pulau Sipadan dan Ligitan pun terjadi terhadap Pulau Maratua. Apalagi operator wisata di Maratua dikelola oleh warga negara asing. Maratua Paradise Resort misalnya, dikelola oleh seorang warga negara Malaysia (Malingsia).
“Tapi karena di Maratua ini sudah bermukim masyarakat Berau (Borneo) sejak puluhan tahun silam. Saya yakin Maratua tidak akan dicaplok oleh negara tetangga atau orang asing. Apalagi di Maratua sudah ada Polsek dan Koramil yang siap mengamankan pulau ini,” beber Rifai.
Kendati demikian, Rifai pun tetap mengajak warga di Maratua untuk waspada, meskipun lepasnya Pulau Maratua ke tangan asing sangat-sangat kecil kemungkinannya atau bahkan tidak mungkin. Apalagi pemerintah kata Rifai, telah menetapkan Pulau Maratua sebagai salah satu pulau terluar yang harus dijaga agar tidak dicaplok negara asing.
“Memang kasus Sipadan dan Ligitan berbeda. Karena kedua pulau itu sebelumnya memang dikuasai oleh operator wisata dari Malaysia (Malingsia). Sedangkan Maratua sudah berpenghuni sejak puluhan tahun silam. Tapi bagaimanapun juga kita harus waspada,” tekan Rifai.

Pulau Kakaban Berau

Pulau Kakaban mempunyai luas 774,2 hektar dan terletek di Kepulauan Derawan, Kecamatan Derawan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.
Pulau Kakaban menarik perhatian turis-turis mancanegara dengan beberapa keunikannya, salah satunya adanya danau di pulau tersebut yaitu Danau Kakaban. Yang mana pada danau tersebut diisi oleh campuran dari air hujan dan rembesan air laut dari pori-pori tanah dan membuat suatu habitat endemik yang berbeda pada kebanyakan kawasan danau lain di dunia, selain Danau Kakaban ada satu lagi danau dengan air payau yaitu di Kepulauan Palau, Mikronesia.
Sering menjadi buah bibir para penyelam, adalah atraksi alami gerombolan barakuda di perairan Pulau Kakaban. Suasana itu menjadi semakin komplit sering munculnya jenis hiu, pari dan ikan-ikan karang eksotik lainnya. Seperti ikan Napoleon (Napoleon Wrasse). Tak mengherankan kalau saat ini, sudah ada tiga perusahaan swasta berfungsi sebagai resort penyelaman di Derawan dan sekitarnya.
Biasanya, setelah menyelam atau Snorkelling di perairan laut Kakaban, banyak yang menyempatkan diri melakukan hal serupa di Danau Kakaban. Untuk mencapai lokasi danau, pengunjung harus mendaki gunung dan bukit yang dipenuhi dengan pepohonan. Lebih mengagumkan, banyak pohon Mangrove yang tumbuh dengan kokoh di atas bebatuan karang. Di danau air asin ini, terdapat antara lain ubur-ubur endemik dari jenis Cassiopea yang dengan mudah ditemukan berenang di kolam air. Sementara darat perairannya dipenuhi dengan alga Halimeda, Sponges jenis Porifera dan ikan gobi.
Tak jarang kumpulan paus atau lumba-lumba melintasi atau mencari makan di perairan sekiter Pulau Kakaban dan Maratua menjadi tontonan yang menarik. Pemandangan tak kalah menawan juga ada di sekitar Taman Wisata Pulau Sangalaki. Di perairan ini, sering terlihat ikan pemangsa plankton muncul dan berkumpul. Sering membuat orang tercengang tentu saja kehadiran belasan pari manta hantu (Manta Birostris) berukuran raksasa. Hewan-hewan ini berenang sambil membuka mulutnya menyaring plankton. Mereka sama sekali tak terusik kehadiran penyelam atau pengemar Snorkelling yang berusaha mengikutinya.
pulau kakaban
ubur-ubur

MARI BELIBUR KE KALIMANTAN TIMUR dan SEKITARnya !!! :)

POTENSI DAERAH KALTIM


Pariwisata


 

Kalimantan Timur merupakan daerah tujuan wisata di Indonesia, memiliki potensi budaya dan pariwisata yang tak kalah menariknya dengan tujuan wisata lain di Indonesia. Hampir 90% objek wisata yang ada disediakan oleh alam Kalimantan, dan 10% lainnya adalah obyek wisata buatan untuk mendukung kepariwisataan di daerah ini.
Ketersediaan obyek wisata berupa alam dengan flora dan faunanya (hutan,sungai, danau, jeram dan pantai) yang dibaur dengan budaya dan sejarah, serta dikemas dalam paket wisata ecotourism, menjadikan Kalimantan Timur sebagai tempat tujuan wisata, dan menempatkan posisinya pada segmen special interest group.
 
JENIS WISATA
JUMLAH
1. Alam
2. Budaya
3. Buatan
4. Peninggalan Sejarah dan Budaya
5. Museum / Sejarah
6. Art Galery
7. Taman Budaya
8. Seni Pertunjukan
9. Desa Kerajinan Tradisional
10. Upacara Adat
11. Taman Nasional
12. Taman Hutan Raya
13. Taman Wisata Alam
14. Taman Buru
15. Taman Wisata Laut
220
30
15
43
2
-
6
-
30
-
-
-
10
-
-
Tabel 23. Barbagai Jenis Obyek Potensi Wisata Kalimantan Timur
 
Beberapa obyek wisata yang umum menjadi tempat tujuan wisata Domestik dan Luar Negeri antara lain adalah :
 
1. WISATA BUDAYA
Salah satu upacara adat akbar yang menjadi agenda kepariwisataan Kalimantan Timur adalah Pesta Adat Erau ; Erau pertama kali dilaksanakan pada upacara tinjak tanah dan mandi ke tepian ketika Aji Batara Agung Dewa Sakti berusia 5 tahun. Setelah dewasa dan diangkat menjadi Raja Kutai Kartanegara yang pertama(1300-1325), juga diadakan upacara Erau. Sejak itulah Erau selalu diadakan setiap terjadi penggantian atau penobatan Raja-raja Kutai Kartanegara.
 
Dalam perkembangannya, Erau dilaksanakan dalam rangka penobatan gelar Raja dan pengangkatan Raja baru dengan menggelar pesta di hadapan seluruh rakyat.
 
Festival Erau yabg kini sudah termasuk dalam Calendar of Events Pariwisata Nasional, tidak lagi hanya dikaitkan dengan seni Budaya Keraton Kutai Kartanegara, tetapi lebih menyajikan variasi ragam budaya dan seni yang ada dan berkembang di wilayah Kutai dan Kalimantan Timur.
 
Samarinda sebagai ibukota Provinsi Kalimantan Timur juga memiliki kawasan Wisata Budaya Pampang ; merupakan kawasan wisata budaya yang menarik untuk menyaksikan kehidupan suku Dayak Kenyah, Daya tarik yang dapat disaksikan di tempat ini adalah Lamin atau rumah adat suku Dayak serta tarian dan upacara adat Dayak Kenyah, yang digelar setiap hari Minggu.
 
2. WISATA SEJARAH
Kedaton Kutai Kartanegara merupakan bangunan yang didirikan oleh Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara bagi Sultan Kutai yang saat ini berkuasa, sebagai bentuk apresiasi untuk melestarikan adat dan budaya Kerajaan Kutai sebagai Kerajaan tertua di Indonesia. Bangunan yang terletak di pusat kota Tenggarong ini memiliki ruang utama berupa singgasana Raja / Sultan Kutai.
 
Dalam keseharian, bangunan Kedaton yang letaknya berdampingan dengan Masjid Agung dan Masjid Jami' Hasanuddin, tepat di jantung kota Tenggarong, merupakan Tahta Kesultanan.
 
Sebagai upaya pelestarian budaya dan adat, di dalam kedaton dibangun sebuah lembaga Adat dan Dewan Adat, yang menjadi perpanjangan tangan dari Kesultanan Kutai Kartanegara dalam menjalankan fungsinya untuk melestarikan sejarah dan kebudayaan.
 
Goa Gunung Kombeng terdapat di Gunung Kombeng yang didalamnya tersimpan patung peninggalan Raja Mulawarman. Dahulunya goa ini memang dipergunakan sebagai tempat pemujaan Raja Mulawarman. Didalamnya terdapat stalagtit dan stalagmit. Untuk mengunjungi goa ini dapat ditempuh dengan kendaraan dari dari Samarinda menuju Sangatta dan selanjutnya ke Muara Wahau.
 
3. WISATA PANTAI DAN LAUT
Kabupaten Berau memiliki potensi wisata yang dikembangkan di wilayah Pulau Derawan dan Pulau Sangalaki dengan taman lautnya yang indah. Pulau-pulau lainnya yang masuk dalam wilayah Kabupaten Berau adalah Pulau Menumbar, Pulau Kakaban, Pulau Semana, Pulau Sambit, Pulau Bakungan, Pulau Inaka dan Pulau Maratua . Di perairan sekitar pulau-pulau tersebut terhampar pulau karang laut yang indah, berbagai jenis ikan hias juga terdapat ikan duyung, kepiting kenari, penyu hijau dan mutiara alam.
 
Kepulauan Derawan mempunyai potensi laut yang sangat kaya dan menurut para ahli keindahan taman laut dan keanekaragaman biota laut yang hidup di pulau itu menduduki posisi ke tiga di dunia. Pulau Derawan kini dikelola oleh PT. Bhumi Manimbora Interbuana sejak 1993 dan telah dilengkapi dengan cottages , restoran, speed boat serta perlengkapan selam lainnya.
 
Sementara Pulau Sangalaki di kelola oleh Sangalaki Dive Lorge, sebuah perusahaan dari Malaysia yang bekerjasama dengan pemerintah Kabupaten Berau dan dilengkapi berbagai fasilitas selam dan cottages . Bagi masyarakat yang ingin tinggal di losmen atau penginapan milik penduduk juga tersedia di Pulau Derawan.
 
4. WISATA ALAM
Wisata alam Bukit Bangkirai merupakan wisata petualangan yang berada di dalam kawasan hutan primer Bukit Bangkirai yang terdapat diperbatasan antara Kota Balikpapan dan Kabupaten Kutai Kartanegara. Kawasan ini merupakan bagian dari kawasan hutan-hutan tropis yang ada di Kalimantan Timur. Dalam kawasan ini selain keasrian hutan alamnya juga terdapat Jembatan Tajuk (canopy bridge) dan beberapa jenis Burung Surga (drongos) dan Burung Enggang (richoneros) yang sangat langka.
 
Tempat ini juga digunakn untuk kepentingan riset dan observasi alam lainnya serta dilengkapi dengan fasilitas akomodasi berupa cottage yang dapat disewa oleh pengunjung.
 
Proyek rehabilitasi orang utan, terletak di Kabupaten Kutai Kartanegara, merupakan tempat perlindungan satwa liar, terutama bagi Orangutan dan Beruang Madu yang tidak dapat dilepas liarkan ke alam karena penyakit, umur yang sudah tua dan cacat lainnya.
 
Terdapat enam pulau buatan yang sengaja diperuntukkan sebagai tempat orangutan. Kawasan Konservasi satwa ini juga dilengkapi dengan Sekolah Hutan yang menyediakan tempat bermain dan pengenalan kembali keterampilan yang diperlukan orangutan untuk hidup setelah dilepas liarkan ke habitat aslinya.
 
Beberapa paket yang ditaearkan dalam melaui program Samboja Ladge adalah Program Rehabilitasi Satwa (Orangutan dan Beruang Madu), kegiatan rehabilitasi lahan kritis, kegiatan kebun organic, kegiatan pembatan pupuk organik (Kompos) dan pengamatan kehidupan liar yang ada di sekitar kawasa Samboja Lestari.
 
Daerah hulu-hulu sungai baik di wilayah Kutai Katanegara, Kutai Barat, Malinau maupun Nunukan merupakan daerah wisata hutan alam Hutan Hujan Tropik yang memiliki keindahan alam yang eksotis dengan kemurnian budaya masyarakat dayak yang tinggal diwilayah tersebut. Kondisi topografi yang umumnya terjal berbukit membentuk aliran sungai yang ber-riam dan memiliki daya tarik bagi wisata arung jeram.
 
KAWASAN PENGEMBANGAN WISATA ( KPP )
Dalam RIPP telah dijabarkan pengembangan kepariwisataan Kaltim, sebagai penjabAran dalam pengembangan kepariwisataan maka dalam rencana induk pengembangan pariwisata provinsi Kalimantan Timur mengelompokkan KPP menjadi 8 KPP. KKP tersebut adalah :
1.  Kawasan Perkotaan Urban Development
     Tema    : Wisata Perkotaan dan Wisata Belanja
     Meliputi : Balikpapan, Samarinda, Bontang dan Tenggarong
 
2.  Kawasan Sungai Mahakam
     Tema    : Eko Wisata Sungai Mahakam
     Meliputi : Alur Sungai Mahakam Samarinda, Kutai Kartanegara dan   Kutai Barat
 
3.   Kawasan Pesisir Kepulauan
      Tema    : Wisata Bahari
      Meliputi : Kepulauan Derawan dan sekitarnya, Tarakan, Nunukan Kepulauan, Bulungan Kepulauan, Sanggata Kepulauan, Muara Sungai Mahakam, dan Kutai Kartanegara, Bontang
 
4.   Kawasan Sedang Berkembang
      Tema    : Wisata Rekreatif
      Meliputi : Kutai Kartanegara, Samarinda
 
5.   Kawasan Pedalaman
      Tema    : Wisata minat khusus petualangan ( adventuring )
      Meliputi : Bulungan-Pedalaman, Berau Pedalaman, Kubar Pedalaman dan Kutai Kartanegara.
 
6.   Kawasan Pesisir
      Tema    : Wisata Bahari ( Alam Pantai )
      Meliputi : Kab. KUtai Timur, Kab. Penajam, dan Kab. Pasir, Balikpapan dan Tarakan.
 
7.    Kawasan Perbatasan Negara
       Tema    : Wisata Minat Khusus ( Living Culture and Jungle Tracking )
       Meliputi : Kab. Malinau, Kab. Nunukan, Kab. Kubar.
 
8.     Kawasan Perbatasan Provinsi
        Tema    : Wisata Minat Khusus ( Living Culture and Jungle Tracking )
        Meliputi : Kab. Kubar dengan Kalteng. Kab. Pasir dengan Kalsel.

WISATA DISAMARINDA

Air Terjun Tanah Merah



Terletak sekitar 14 km dari pusat kota Samarinda tepatnya di dusun Purwosari kecamatan Samarinda Utara. Tempat ini merupakan pilihan tepat bagi wisata keluarga karena dilengkapi pendopo istirahat, tempat berteduh dengan pohon peneduh di sekitar lokasi, warung, areal parkir kendaraan yang luas, pentas terbuka dan tempat pemandian. untuk mencapai obyek wisata tersebut, dapat ditempuh dengan kendaraan bermotor baik roda dua maupun empat serta angkutan umum trayek Pasar Segiri - Sungai Siring

Kebun Raya Unmul Samarinda


A. Selayang Pandang

Kebun Raya Samarinda merupakan obyek wisata yang unik karena memadukan rekreasi dengan pendidikan seputar alam dan lingkungan. Luas keseluruhan kebun raya ini adalah 300 hektar. Pada awalnya, kebun raya ini merupakan areal HPH CV Kayu Mahakam milik Ali Akbar Afloes. Pada tahun 1974, pemiliknya menyerahkan 300 hektar di kawasan Gunung Kapur kepada Rektor Universitas Mulawarman ketika itu, R. Sambas Wirakusumah untuk dijadikan sebagai hutan konservasi. Hal itu ternyata didukung penuh melalui keputusan Gubernur Provinsi Kalimantan Timur dan Kepala Dinas Kehutanan Kalimantan Timur. Pada tahun 1997, Walikota Samarinda mendukung program tersebut dengan memfungsikan kebun raya tersebut sebagai hutan pendidikan dan kebun botani bagi civitas akademik Universitas Mulawarman.

Sejak diresmikan sebagai hutan pendidikan, kawasan tersebut sering digunakan sebagai tempat kegiatan kemahasiswaan, lokasi penelitian, dan praktik kerja lapangan (PKL) mahasiswa. Tidak hanya mahasiswa Universitas Mulawarman saja yang hanya diperbolehkan mengakses kawasan tersebut. Mahasiswa dari luar Universitas Mulawarman atau dari luar negeri juga diperbolehkan melakukan penelitian di tempat ini. Sejak ditandatanganinya kerja sama antara Universitas Mulawarman dan Pemerintah Kota Samarinda, kawasan ini berubah nama menjadi Kebun Raya Samarinda. Dalam perkembangan selanjutnya, 62 hektar dari total luas 300 hektar difungsikan sebagai fasilitas jalan, danau buatan, fasilitas olah raga, dan panggung hiburan. Kawasan ini juga makin dikembangkan dan difungsikan sebagai obyek wisata dan rekreasi, seperti adanya kebun binatang, kolam renang, taman burung, taman bunga, perahu wisata, dan bumi perkemahan.

Ketika masuk ke dalam kawasan kebun raya, pengunjung akan merasakan suasana hutan yang begitu sejuk. Untuk memasuki area utama kebun raya pengunjung perlu berjalan sepanjang satu kilometer. Selama dalam perjalanan, pengunjung dapat melihat-lihat dan menikmati pohon-pohon lebat yang sebagiannya telah diberi label lengkap dengan nama spesiesnya. Meski jalannya beriku-liku dan berbukit-bukit, pengunjung bisa terhibur dengan kicauan burung dan suara monyet yang saling bersahutan.

B. Keistimewaan

Salah satu keistimewaan di kebun raya ini adalah adanya kebun binatang yang sangat luas. Di kebun binatang terdapat sejumlah orangutan yang memang sengaja dilepas namun sudah jinak agar pengunjung bisa langsung berinteraksi. Di samping orangutan juga ada binatang-binatang lainnya, seperti sepasang ular cobra, burung enggang, burung kakatua, kuda poni, burung cendrawasih, buaya, kancil, dan landak. Hanya saja, pengujung perlu menaiki anak tangga bukit yang cukup tinggi. Meski demikian, kondisi ini rupanya telah menjadi daya tarik bagi pengunjung dari berbagai daerah, termasuk dari luar Kalimantan Timur.

Pengunjung juga dapat menikmati danau buatan yang sangat luas. Di obyek wisata ini pengunjung bisa menyewa perahu dengan beraneka ragam bentuknya. Harga sewanya adalah Rp. 15.000,00 per 15 menit dengan batas muatan tiga orang dewasa.

C. Lokasi

Kebun Raya Samarinda terletak di sebelah utara Kota Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur, Indonesia.

D. Akes

Pengunjung yang akan menuju lokasi dapat menggunakan jalur darat, baik kendaraan roda dua maupun roda empat. Jarak dari Kota Samarinda adalah 20 km atau sekitar 30 menit waktu perjalanan. Sebagai catatan, untuk sampai ke area utama kebun raya, pengunjung perlu menggunakan kendaraan pribadi karena tidak ada angkutan khusus yang tersedia, kecuali harus berjalan kaki.

E. Tiket

Harga tiket masuk adalah Rp. 3.000,00, baik untuk dewasa maupun juga anak-anak. Harga ini sudah termasuk untuk kendaraan yang masuk ke dalam kawasan kebun raya.

F. Akomodasi dan Fasilitas Lain

Ada sejumlah fasilitas lain yang dapat dinikmati oleh para pengunjung, di antaranya adalah permainan mobil atau motor remote control khusus untuk anak-anak, areal pemancingan, jalan refleksi, dan panggung terbuka yang sering digunakan untuk acara-acara konser musik dan lain sebagainya.


wisata di kota samarinda tidak terlalu banyak !!

SEJARAH KOTA SAMARINDA

Sejarah Kota Samarinda tidak lepas dari peranan Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura, rombongan orang-orang Bugis Wajo, serta penjajah Belanda dan Jepang..

Wilayah Kerajaan Kutai Kartanegara

Kerajaan Kutai Ing Martadipura berdiri pada abad ke-4 sampai dengan abad ke-17 Masehi dan berpusat di Muara Kaman, Kutai Kartanegara. Kerajaan Kutai Kartanegara yang berdiri tahun 1300 sampai dengan tahun 1959 mengalami dua kali perpindahan pusat pemerintahan. Pusat pemerintahan tahun 1735-1959 tidak disebutkan dalam cerita. Tahun 1300-1734 berpusat di Kutai Lama atau Tepian Batu. Raja pertama bernama Aji Batara Agung Dewa Sakti dan permaisurinya bernama Putri Karang Melenu.[1]
Pada waktu itu, wilayah kekuasaan Kerajaan Kutai Kartanegara meliputi daerah yang luas, mulai daerah pantai, daerah kiri kanan Sungai Mahakam, sampai batas wilayah Muara Kaman ke udik. Daerah itu merupakan wilayah kekuasaan Kerajaan Kutai Ing Martadipura sampai masa runtuh kerajaan itu pada abad ke-17.
Wilayah Samarinda termasuk pula ke dalam wilayah Kerajaan Kutai Kartanegara. Akan tetapi saat itu, belum ada sebuah desa pun berdiri, apalagi kota. Sampai pertengahan abad ke-17, wilayah Samarinda merupakan lahan persawahan dan perladangan beberapa penduduk. Lahan persawahan dan perladangan itu umumnya dipusatkan di sepanjang tepi Sungai Karang Mumus dan sungai Karang Asam.
Berdirinya kota Samarinda tidak terlepas dari hijrah orang-orang Bugis Wajo, Sulawesi Selatan. Merekalah yang membangun Samarinda. Menurut lontara atau silsilah kedatangan suku Bugis menyebar ke seluruh Nusantara bermula pada tahun 1668.
Penyebaran itu terjadi karena kerusuhan di Kerajaan Bone Sulawesi Selatan pada tahun 1665. Ketika itu diadakan perhelatan besar pernikahan putra Goa dengan putri Bone. Kemudian terjadi perkelahian antara putra-putra Bone dan putra-putra bangsawan Wajo karena acara sabung ayam. Saat itu putra bangsawan Bone tewas tertikam keris sakti putra Wajo.

Awal mula berdirinya Samarinda

Perjanjian Bungaya

Pada saat pecah perang Gowa, pasukan Belanda di bawah Laksamana Speelman memimpin angkatan laut Kompeni menyerang Makassar dari laut, sedangkan Arung Palakka yang mendapat bantuan dari Belanda karena ingin melepaskan Bone dari penjajahan Sultan Hasanuddin (raja Gowa) menyerang dari daratan. Akhirnya Kerajaan Gowa dapat dikalahkan dan Sultan Hasanuddin terpaksa menandatangani perjanjian yang dikenal dengan Perjanjian Bungaya pada tanggal 18 November 1667.

Kedatangan orang Bugis ke Kesultanan Kutai

Pemukiman penduduk di tepi Sungai Mahakam pada zaman pendudukan Belanda. Wilayah ini sekarang menjadi kawasan Karang Asam.
Sebagian orang-orang Bugis Wajo dari kerajaan Gowa yang tidak mau tunduk dan patuh terhadap isi perjanjian Bongaja tersebut, mereka tetap meneruskan perjuangan dan perlawanan secara gerilya melawan Belanda dan ada pula yang hijrah ke pulau-pulau lainnya di antaranya ada yang hijrah ke daerah Kesultanan Kutai, yaitu rombongan yang dipimpin oleh La Mohang Daeng Mangkona (bergelar Pua Ado yang pertama). Kedatangan orang-orang Bugis Wajo dari Kerajaan Gowa itu diterima dengan baik oleh Sultan Kutai.[2]
Atas kesepakatan dan perjanjian, oleh Raja Kutai rombongan tersebut diberikan lokasi sekitar kampung melantai, suatu daerah dataran rendah yang baik untuk usaha Pertanian, Perikanan dan Perdagangan. Sesuai dengan perjanjian bahwa orang-orang Bugis Wajo harus membantu segala kepentingan Raja Kutai, terutama di dalam menghadapi musuh.
Semua rombongan tersebut memilih daerah sekitar muara Karang Mumus (daerah Selili seberang) tetapi daerah ini menimbulkan kesulitan di dalam pelayaran karena daerah yang berarus putar (berulak) dengan banyak kotoran sungai. Selain itu dengan latar belakang gunung-gunung (Gunung Selili).

 

Rumah Rakit yang Sama Rendah

Jl. Jendral Winkelman (sekarang Jl. RE Martadinata dan Jl. Gajah Mada) di tepi Sungai Mahakam pada zaman penjajahan Belanda.
Sekitar tahun 1668, Sultan yang dipertuan Kerajaan Kutai memerintahkan Pua Ado bersama pengikutnya yang asal tanah Sulawesi membuka perkampungan di Tanah Rendah. Pembukaan perkampungan ini dimaksud Sultan Kutai, sebagai daerah pertahanan dari serangan bajak laut asal Pilipina yang sering melakukan perampokan di berbagai daerah pantai wilayah kerajaan Kutai Kartanegara. Selain itu, Sultan yang dikenal bijaksana ini memang bermaksud memberikan tempat bagi masyarakat Bugis yang mencari suaka ke Kutai akibat peperangan di daerah asal mereka. Perkampungan tersebut oleh Sultan Kutai diberi nama Sama Rendah. Nama ini tentunya bukan asal sebut. Sama Rendah dimaksudkan agar semua penduduk, baik asli maupun pendatang, berderajat sama. Tidak ada perbedaan antara orang Bugis, Kutai, Banjar dan suku lainnya.
Dengan rumah rakit yang berada di atas air, harus sama tinggi antara rumah satu dengan yang lainnya, melambangkan tidak ada perbedaan derajat apakah bangsawan atau tidak, semua "sama" derajatnya dengan lokasi yang berada di sekitar muara sungai yang berulak dan di kiri kanan sungai daratan atau "rendah". Diperkirakan dari istilah inilah lokasi pemukiman baru tersebut dinamakan Samarenda atau lama-kelamaan ejaan Samarinda. Istilah atau nama itu memang sesuai dengan keadaan lahan atau lokasi yang terdiri atas dataran rendah dan daerah persawahan yang subur.
Penduduk menerima bagian lahan yang sama-sama rendah sehingga wilayah itu dinamakan "sama rendah". Akhirnya daerah itu disebut Samarinda. Penduduk Samarinda setiap tahun bertambah karena orang-orang Wajo berdatangan dan menetap di sana.
Berhadapan dengan daerah pemukiman baru ini, di tepi kanan Sungai Mahakam berkembang pula pemukiman di sekitar sungai Karang Mumus dan Karang Asam. Pemukiman ini dibangun para petani dan nelayan suku Kutai dan suku Banjar, pendatang dari Kalimantan Selatan.
La Mohang Daeng Mangkona mulai membangun daerah baru itu dengan bantuan seluruh pengikutnya. Hutan belantara ditebas dan kayu-kayu besar ditebang. Setelah lahan terbuka dan pohon-pohon kering dibakar terbukalah daerah persawahan yang luas di tanah datar dan rendah tanpa bukit-bukit. Air tadah hujan menggenangi lahan yang pada saatnya ditanami bibit padi sawah.
Rumah-rumah didirikan di tepi Sungai Mahakam, membujur dari hilir ke hulu. Setiap keluarga mendirikan tumah tinggal yang dikerjakan secara gotong-royong. Dengan sistem gotong-royong semua pekerjaan dapat dilaksanakan dengan baik.
Pua Ado diberi gelar Panglima Sepangan Pantai. Ia bertanggungjawab terhadap keamanan rakyat dan kampung-kampung sekitar sampai ke bagian Muara Badak, Muara Pantuan dan sekitarnya. Keputusan sidang kerajaan membuka Desa Sama Rendah memang jitu. Sejak saat itu, keamanan di sepanjang pantai dan jalur Mahakam menjadi kondusif. Tidak ada lagi bajak laut yang berani beraksi. Dengan demikian, kapal-kapal dagang yang berlayar, baik dari Jawa maupun daerah lainnya bisa dengan aman memasuki Mahakam. Termasuk kapal-kapal pedagang Belanda dan Inggris. Mereka berlayar hingga ke pusat Kerajaan, di Tepian Pandan. Dengan demikian roda pemerintahan berjalan dengan baik serta kesejahteraan masyarakat menjadi meningkat.
Sejak kedatangan bangsa Belanda yang memerintah di Indonesia sebagai penjajah, daerah ini dibangun menjadi pusat pemerintahan di Kalimantan Timur, wilayah antara Karang Mumus dan Karang Asam.
Bangsa Jepang datang ke Samarinda pada tanggal 3 Februari 1942 setelah menguasai Tarakan dan Balikpapan. Sesampainya di Samarinda, pada tanggal 5 Februari 1942, tentara Jepang melanjutkan penyerbuaannya ke Lapangan Terbang Samarinda II yang waktu itu masih dikuasai oleh Tentara Hindia Belanda (KNIL). Dengan berhasil direbutnya lapangan terbang itu, dengan mudah pula Banjarmasin diduduki oleh tentara Jepang pada tanggal 10 Februari 1942.

Samarinda Seberang

Sejarah terbukanya sebuah kampung yang menjadi kota besar, dikutip dari buku berbahasa Belanda dengan judul “Geschiedenis van Indonesie“ karangan de Graaf. Buku yang diterbitkan NV.Uitg.W.V.Hoeve, Den Haag, tahun 1949 ini juga menceritakan keberadaan Kota Samarinda yang diawali pembukaan perkampungan di Samarinda Seberang yang dipimpin oleh Pua Ado. Belanda yang mengikat perjanjian dengan kesultanan Kutai kian lama kian bertumbuh. Bahkan, secara perlahan Belanda menguasai perekonomian di daerah ini. Untuk mengembangkan kegiatan perdagangannya, maka Belanda membuka perkampungan di Samarinda Seberang pada tahun 1730 atau 62 tahun setelah Pua Ado membangun Samarinda Seberang. Di situlah Belanda memusatkan perdagangannya.
Namun demikian, pembangunan Samarinda Seberang oleh Belanda juga atas izin dari Sultan Kutai, mengingat kepentingan ekonomi dan pertahanan masyarakat di daerah tersebut. Apalagi, Belanda pada waktu itu juga menempatkan pasukan perangnya di daerah ini sehingga sangat menjamin keamanan bagi Kerajaan Kutai.
Samarinda berkembang terus dengan bertambahnya penduduk yang datang dari Jawa dan Sulawesi dalam kurun waku ratusan tahun. Bahkan sampai pada puncak kemerdekaan tahun 1945 hingga keruntuhan Orde Lama yang digantikan oleh Orde Baru, Samarinda terus ’disatroni’ pendatang dari luar Kaltim. Waktu itu Tahun 1966 adalah peralihan masa Orde Lama ke Orde Baru. Keadaan semuanya masih acak dan semberawut. Masalah keamanan rakyat memang terjamin dengan terbentuknya Hansip (Pertahanan Sipil) yang menggantikan OPR (Organisasi Pertahanan Rakyat). Hansip mendukung keberadaan Polisi dan TNI.
Kendati terbilang maju pada zamannya, perubahan signifikan Kota Samarinda dimulai ketika wali kota Kadrie Oening diangkat dan ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri dengan Surat Keputusan No. Pemda 7/ 67/14-239 tanggal 8 November 1967. Ia menggantikan Mayor Ngoedio yang kemudian bertugas sebagai pejabat tinggi pemerintahan Jawa Timur di Surabaya. Kotamadya Samarinda pada tahun 1950 terbagi tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Samarinda Ulu, Samarinda Ilir dan Samarinda Seberang. Luas wilayahnya saat itu hanya 167 km². Kemudian pada tahun 1960 wilayah Samarinda diperluas menjadi 2.727 km² meliputi daerah Kecamatan Palaran, Sanga-Sanga, Muara Jawa dan Samboja. Namun belakangan, kembali terjadi perubahan. Kota Samarinda hanya tinggal Kecamatan Palaran, Samarinda Seberang, Samarinda Ilir dan Samarinda Ulu.