Sejarah Berau
April 8th, 2010
wisata
Kabupaten Berau adalah salah satu Daerah Tingkat II di provinsi Kalimantan Timur. Ibu kota kabupaten ini terletak di Tanjung Redeb, Berau. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 32.700 km² dan berpenduduk sebesar kurang lebih 75.000 jiwa.
Kabupaten Berau berasal dari Kesultanan Berau yang didirikan sekitar abadd ke-14. Menurut sejarah Berau,
Raja pertama yang memerintah bernama Baddit Dipattung dengan gelar Aji
Raden Surya Nata Kesuma dan Isterinya bernama Baddit Kurindan dengan
gelar Aji Permaisuri. Pusat pemerintahan kerajaan pada awalnya
berkedudukan di Sungai Lati (sekarang menjadi lokasi pertambangan Batu
Bara PT. Berau Coal).
Aji Raden Suryanata Kesuma
menjalankan masa pemerintahannya tahun 1400 – 1432 dengan adil dan
bijaksana, sehingga kesejahteraan rakyatnya meningkat. Pada masa itu dia
berhasil menyatukan wilayah pemukiman masyarakat Berau yang disebut
Banua, yaitu Banua Merancang, Banua Pantai, Banua Kuran, Banua Rantau
Buyut dan Banua Rantau Sewakung.
Di samping kewibawaannya, kedudukan Aji
Raden Suryanata Kesuma juga sangat berpengaruh, menjadikan dia disegani
lawan maupun kawan. Untuk mengenang jasa Raja Berau yang pertama ini,
Pemerintah telah mengabdikannya sebagai nama Korem 091 Aji Raden Surya
Nata Kesuma yang Rayon Militer Kodam VI/TPR.
Setelah beliau wafat, Pemerintahan
Kesultanan Berau dilanjutkan oleh putranya dan selanjutnya secara turun
temurun keturunannya memerintah sampai pada sekitar abad ke-17. Kemudian
awal sekitar abad XVIII datanglah penjajah Belanda memasuki kerajaan
Berau dengan berkedok sebagai pedagang (VOC). Namun kegiatan itu
dilakukan dengan politik De Vide Et Impera (politik adu domba).
Kelicikan Belanda berhasil memecah belah Kerajaan Berau, sehingga
kerajaan terpecah menjadi 2 Kesultanan yaitu Kesultanan Sambaliung dan
Kesultanan Gunung Tabur.
Pada saat bersamaan masuk pula ajaran
agama Islam ke Berau yang dibawa oleh Imam Sambuayan dengan pusat
penyebarannya di sekitar Sukan. Sultan pertama di Kesultanan Sambaliung
adalah Raja Alam yang bergelar Alimuddin (1800 – 1852). Raja Alam
terkenal pimpinan yang gigih menentang penjajah belanda. Raja Alam
pernah ditawan dan diasingkan ke Makassar (dahulu Ujung Pandang). Untuk
mengenang jiwa Patriot Raja Alam namanya diabadikan menjadi Batalyon 613
Raja Alam yang berkedudukan di Kota Tarakan.
Sedangkan Kesultanan Gunung Tabur
sebagai Sultan pertamanya adalah Sultan Muhammad Zainal Abidin (1800 –
1833), keturunannya meneruskan pemerintahan hingga kepada Sultan Achmad
Maulana Chalifatullah Djalaluddin (wafat 15 April 1951) dan Sultan
terkhir adalah Aji Raden Muhammad Ayub (1951 – 1960). Kemudian wilayah
kesultanan tersebut menjadi bagian dari Kabupaten Berau.
Sultan Muhammad Amminuddin menjadi
Kepala Daerah Istimewa Berau. Beliau memerintah sampai dengan adanya
peraturan peralihan dari Daerah Istimewa menjadi Kabupaten Dati II
Berau, yaitu Undang-undang Darurat tahun 1953 Tanggal terbitnya
Undang-undang tersebut dijadikan sebagai Hari jadi Kabupaten Berau.
Dengan diterbitkannya Undang-undang No.27 tahun 1959, Daerah Istimewa
Berau berubah menjadi kabupaten Dati II Berau dan Tanjung Redeb sebagai
Ibukotanya, dengan Sultan Aji Raden Muhammad Ayub (1960 – 1964) menjadi
Bupati Kepala Daerah Tk. II Berau yang pertama.
Penetapan Kota Tanjung Redeb
sebagai pusat pemerintahan Dati II Kabupaten Berau adalah untuk
mengenang pemerintahan Kerajaan (Kesultanan) di Berau. Di mana pada
tahun 1810 Sultan Alimuddin (Raja Alam) memindahkan pusat
pemerintahannya ke Kampung Gayam yang sekarang dikenal dengan nama
Kampung Bugis. Perpindahan ke Kampung Bugis pada tanggal 25 September
tahun 1810 itu menjadi cikal bakal berdirinya kota Tanjung Redeb, yaitu
kemudian dibadikan sebagai Hari jadi Kota Tanjung Redeb sebagaimana
diterapkan dalam Perda No. 3 tanggal 2 April 1992.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar